USELESS

This is not my own fanfic. I just translated it to Indonesian version, because I really love the story of this fanfic (I hope the author doesn't mind).
This fanfic original by 2Dglasses ( https://www.asianfanfics.com/story/view/1345983/1/useless )

Let's enjoy reading. :)

===

USELESS

Kata Pengantar :

Heechul mencelakai kakinya ketika syuting Knowing Brothers. Dia berusaha keras menyembunyikan hal itu dari membernya terutama Leeteuk, karena Super Junior sudah bekerja keras untuk comeback mereka. Tetapi justru rasa sakitnya menjadi semakin parah.
#Heechul #Leeteuk #SuperJunior #KnowingBrothers

===

Hari selanjutnya syuting Knowing Brothers berjalan lancar. Seperti biasa, Hodong sibuk meledek para dongsaeng. Namun seperti biasanya pula, itu hanyalah sebuah gurauan.

"Ah, hyung! Hati-hati jangan sampai merusak kursi ketika kau duduk kembali! Kita sudah menggunakan anggaran tahun ini!"

Heechul menggoda sehingga para hyung lainnya meledak tertawa. Hodong menoleh ke arah kamera dan berteriak dengan senyum lebar di wajahnya.

Kyunghoon menyaksikan hyung yang satu tahun lebih tua darinya itu berdiri di depannya sedang bersenda gurau dengan para hyung lainnya. Heechul selalu berkata tajam, dia penasaran bagaimana hal itu sebelumnya tidak pernah membuat Heechul dalam kesulitan masalah.

Sekali atau dua kali hal itu pasti pernah terjadi. Saat-saat ketika Heechul sangat kasar dengan lelucon nya adalah saat-saat ketika Hodong memukulnya sedikit lebih keras. Namun anggota Super Junior tersebut akan menunjukkan ketidaknyamanannya dan Hodong akan mengurangi candaan nya selama Heechul melakukannya juga.

Namun kali ini benar-benar suatu kecelakaan.

"Kau ingin berkelahi?"

Hodong meneriakkan slogannya sebelum melangkah ke arah dongsaengnya tersebut dan mendorongnya ke belakang. Heechul terhuyung beberapa meter dan akhirnya menabrak meja Kyunghoon dengan keras. Kyunghoon mendengar hyung-nya meringis kesakitan saat bagian atas tubuhnya melengkung karena mengenai permukaan meja. Kyunghoon reflek berdiri dan menahan hyungnya.

Anggota lain memperhatikan ketika Heechul secara dramatis bersikap seperti dilebih-lebihkan dan Kyunghoon disebelahnya tampak seperti sedang bersenda gurau seperti yang biasa mereka lakukan. Mereka mulai tertawa dan bersiap-siap untuk set berikutnya.

Kyunghoon membantu Heechul bangun.

"Gwenchana?"

Heechul berdiri tegak dan tersenyum.

"Nde. Gwenchana. Gomawo, Kyunghoon-ah."

Mereka berbicara dengan suara pelan dan Heechul perlahan duduk kembali di depan maknae nya tersebut.

Syuting pun berlanjut. Namun Kyunghoon memperhatikan bahwa selama sisa syuting tersebut Heechul terlihat lebih banyak diam daripada biasanya. Dia jarang berbicara seperti biasanya bahkan tidak berdiri sama sekali. Kyunghoon mengintip untuk melihat hyung-nya itu lebih jelas. Dia memperhatikan Heechul banyak mengeluarkan keringat dan rambut bagian belakang kepala nya pun tampak lepek dan basah karena keringat.
Dia mencondongkan tubuhnya lebih ke depan lagi dan melihat tangan Heechul mengepal erat di atas kaki kirinya. Matanya terpejam rapat.

"Oke semuanya, break makan siang"

Produser berteriak dari tempatnya. Para anggota lain berdiri dan bersenda gurau.

"Ah, sudah waktunya istirahat!"

Yeongchul berseru dalam bahasa Inggris dan menggosokan kedua tangannya.

Ruang kelas menjadi kosong. Semua pergi keluar kecuali para maknae. Heechul tidak memperhatikan bahwa Kyunghoon masih duduk di belakangnya. Dia mencoba bangun untuk berdiri, tetapi langsung jatuh kembali ke kursinya. Tangannya mencengkeram ujung meja dan dia menundukkan kepalanya, memejamkan matanya rapat-rapat.

Kyunghoon segera berdiri dan pindah ke sebelah Heechul.

"Hyung!"

Kyunghoon berlutut dan menatap wajah hyungnya. Air mata mengalir di wajah Heechul yang saat ini sangat pucat. Pria cantik itu membuka matanya dan menatap sayu dongsaengnya.

"Aku tidak bisa berdiri, Kyunghoon-ah."

Kyunghoon dengan cemas melirik ke bawah dan melihat tangan Heechul yang halus memegangi lututnya.

"Sialan!"

Kyunghoon mengumpat.

"Aku tahu kau menahan sakit."

Heechul memandang Kyunghoon dengan mata berat.

"Itu tidak terlalu keras, kan? Seperti yang aku bilang."

"Ini sedikit berlebihan, hyung. Menurutku ini benar-benar kecelakaan. Kau tahu kan Hodong tidak pernah bermaksud untuk benar-benar mencelakaimu."

Heechul perlahan melepaskan genggaman kuat pada lututnya dan mencoba meluruskan kakinya. Dia kesakitan, tetapi tetap melanjutkan sampai kakinya berhasil lurus. Kyunghoon memperhatikan gerakan hati-hati hyungnya. Dia melihat bagaimana alis Heechul berkerut dan dia mengertakkan giginya, keringat mengalir di pelipisnya.

"Haruskah aku memanggil petugas medis?"

"Tidak perlu, aku akan baik-baik saja."

"Heechul. Kau kesakitan."

"Aku bisa menghadapinya, Kyunghoon-ah. Aku sudah mengalaminya bertahun-tahun."

Kyunghoon mendekati Heechul yang bersandar di mejanya dan membantunya berdiri. Dia tanpa bicara langsung memegangi sikunya dan membantunya sehingga Heechul dapat duduk di atas meja. Heechul membungkuk ke depan dan mulai memijat kakinya yang sakit. Kyunghoon membayangkan bahwa hyungnya ini pasti sudah sangat sering mengalami ini. Dia tahu bahwa kaki Heechul tidak pernah benar-benar sembuh sepenuhnya dan itu masih tetap menimbulkan sakit baginya.

"Super Junior mau comeback sebentar lagi. Semua orang sudah bekerja sangat keras dan aku tidak bisa mengecewakan mereka lagi."

Kyunghoon menaruh tangannya yang lebih kecil di atas tangan Heechul untuk menghentikannya memijat lututnya yang sekarang menjadi bengkak. Gerakan itu membuat Heechul menatap mata Kyunghoon.

"Kau tidak akan mengecewakan mereka. Mereka mencintaimu dan kau tahu itu."

Heechul ragu-ragu sebelum akhirnya mengangguk dalam diam.

Lalu kemudian Hodong menjulurkan kepalanya ke ruang kelas.

"Kalian berdua sedang apa?"

Kyunghoon melirik Heechul yang hanya menatap ke bawah, sebelum beralih menatap Hodong di ambang pintu.

"Hyung, bisakah kau ke sini sebentar?"

Hodong lalu mendekati kedua maknae tersebut dan melihat ke arah Heechul yang diam saja dan matanya masih terpaku ke lantai.

"Kau berhasil melakukannya, Kyunghoon. Dia akhirnya bisa diam!"

Hodong mengulurkan tangan ke belakangnya dan memperagakan seolah-olah mengeluarkan pena dan kertas.

"Katakan padaku bagaimana caranya, jadi aku bisa mencatat."

"Hyung."

Kyunghoon memanggil dengan pelan dan menatap Hodong. Nada bicaranya yang serius membuat Hodong berhenti bergurau lalu memperhatikan penampilan dan gerak-gerik Heechul. Heechul mengeluarkan banyak keringat dan dia tampak tidak nyaman. Hodong mengamati tubuh kecil pria itu dan melihat bagaimana tangannya bergetar mencengkeram lutut kirinya. Hodong tahu tentang masalah kakinya dan bagaimana tidak sukanya Heechul membicarakan tentang hal itu.

"Heechul-ah."

Hodong mulai masuk kedalam suasana serius tersebut.

Melihat Heechul yang tidak menjawab, Kyunghoon pun menyentuhnya pelan.

"Heechul."

Suara Kyunghoon membuat pria cantik itu akhirnya mendongak ke atas dan membuka matanya. Hodong langsung melihat mata dongsaengnya itu tampak berkaca-kaca. Dia kini menjadi khawatir.

"Heechul-ah, ada apa?".

Heechul menatap ke arah Kyunghoon, dan Kyunghoon hanya mengangguk padanya.

"Sakit, hyung. K-kakiku."

Hodong juga menatap ke arah Kyunghoon.

"Ketika tadi kau mendorongnya."

Kyunghoon menjelaskan. Hodong melangkah pelan ke arah Heechul dan dengan lembut meletakkan tangannya di atas paha dongsaengnya tersebut, tepat di atas tangan halus yang sedang mencengkeram lututnya.

"Kenapa kau tidak memberitahuku?"

"Ini bukanlah masalah besar."

Kyunghoon tiba-tiba berdiri dan menunjuk ke arah lutut Heechul.

"Kau tidak bisa berdiri, Heechul-ah."

Lagi-lagi Kyunghoon menjelaskan.

Hodong segera berbalik dan berjalan menuju sudut belakang ruangan.

"Hyung, kau mau kemana?"

Kyunghoon bertanya.

"Memberitahu produser bahwa kita selesai untuk hari ini. Kita tidak bisa melanjutkan syuting jika Heechul-ah sakit."

Heechul langsung panik.

"T-Tidak! Hyung, aku bisa. Aku bisa berdiri."

Heechul berusaha untuk bangun sendiri hingga akhirnya berhasil berdiri meski tidak nyaman. Kyunghoon berjaga-jaga menahan tangannya tetap berada beberapa centi dari pinggang Heechul. Hodong berbalik untuk melihat maknae yang kesakitan tersebut berusaha untuk tetap berdiri. Heechul meringis kesakitan, tetapi berhasil tetap berdiri tegak mmeskipun dia sekarang mulai sedikit bergetar.

"L-Lihat?"

Heechul tidak bisa membodohi siapa pun. Baik Hodong maupun Kyunghoon bisa melihat betapa sulit baginya untuk tetap berdiri seperti ini. Akhirnya dia menyerah dan jatuh kembali ke kursinya. Dia menghela nafas frustasi dan memukulkan tinjunya ke meja.

"Ah, aku benci kaki sialan ini!"

Heechul menangis lagi, tetapi kali ini karena frustrasi. Hodong merasakan tenggorokannya tercekat karena kesedihan yang dirasakan dongsaengnya itu. Hodong melangkah mendekati Heechul dan dengan lembut menyentuhnya, membawa kepalanya ke dadanya lalu memeluknya.

"Heechul-ah, Mianhae. Aku tidak bermaksud mencelakaimu. Kau tahu aku tidak pernah bermaksud seperti itu, kan?"

"Aku tahu, hyung."

Suaranya teredam di pelukan Hodong yang kemudian Hodong merasakan bajunya basah karena air mata dongsaengnya yang sedang menahan sakit tersebut. Kyunghoon meletakkan telapak tangannya di punggung Heechul dan dengan lembut mengelus-ngelus punggung tersebut.

"Menurutku terkadang kau tidak sadar kekuatanmu sendiri, Hodong hyung."

Sang maknae beralasan sambil bergurau hingga membuat Hodong terkekeh. Hodong merasa lega ketika dia merasakan tubuh di dekapannya juga bergetar sedikit terhadap gurauan yang dilontarkan maknae. Setelah beberapa saat, Heechul akhirnya melepaskan pelukannya dan mengusap matanya. Begitu dia sudah tenang, dia hanya memandang kedua pria itu dan tersenyum malu-malu.

"Jadi, kau tidak akan memberitahu mereka?"

Hodong menebak dengan benar karena Heechul mengangguk.

"Hanya sampai aku pulang ke apartemen. Setelah itu aku akan mengompres kakiku dengan es dan nanti juga akan membaik."

Kyunghoon mengamati wajah Hodong yang seperti sedang berpikir.

"Baiklah. Aku akan mengatakan bahwa aku sedang tidak enak badan. Itu akan memberimu akhir pekan untuk pulih."

"Benarkah, hyung?"

Sang maknae bertanya.

"Tentu saja. Lagipula itu salahku hingga kau terluka."

"Hyung, apa kau yakin tidak apa-apa?"

Tanya Heechul dengan suara pelan. Hodong berlutut sejajar dengannya dan tersenyum.

"Aku Kang Hodong. Kata-kataku bisa berkuasa disini."

"Bukan hanya berat tubunya saja yang berkuasa."

Heechul tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa dan tersenyum nakal pada hyungnya itu. Hodong bisa saja menyerang membalas dongsaengnya tersebut, tetapi dia hanya tertawa dan berdiri kembali.

"Kyunghoon-ah, tolong antarkan dia pulang dan jaga dia."

Kyunghoon mengangguk dan membantu Hodong memapah Heechul. Hodong menepuk bahu Heechul.

"Serius, Heechul-ah. Mianhae."

"Arasseo, hyung. Tidak apa-apa, sungguh. Space Big Starmu akan kembali pada hari Senin, sehat bugar seperti sedia kala."

Hanya dari rasa sakit luar biasa yang dia rasakan saat ini dan kenyataan bahwa dia akan berlatih dance besok, Heechul tahu kata-katanya tadi mungkin hal mustahil.

===

Heechul tiba di apartemennya dan mengucapkan terima kasih kepada Kyunghoon sebelum menjatuhkan dirinya ke sofa. Dia tidak lelah, dia hanya ingin memejamkan matanya dan beristirahat sebentar. Dia tetap seperti itu sampai lututnya mulai terasa sakit lagi. Dia menghela nafas panjang dan memaksa dirinya untuk bangun, lalu berjalan ke dapur untuk mengambil es. Dia melemparkan jaketnya ke belakang kursi dan melepas celananya sehingga dia bisa mengompreskan es ke kaki telanjangnya.

Sebelum mulai mengompres lututnya, dia melirik kakinya dan melihat betapa bengkaknya anggota tubuhnya tersebut. Dia meringis dan dengan lembut mengompreskan es dingin itu ke kakinya, dia menghela nafas dan sedikit gemetar karena rasa dingin dari es. Dia kemudian mencondongkan dirinya ke depan dan menempelkan dahinya ke permukaan meja.

Dia terbangun karena suara getar teleponnya di atas meja. Dia tersentak berdiri dan melihat es yang dia kompres ke lututnya telah mencair ke lantai, menyisakan tetesan-tetesan air di kakinya yang halus. Bengkaknya sudah sedikit mereda, tetapi masih belum benar-benar hilang. Akhirnya dia melirik ponselnya untuk melihat pesan masuk.

[Teuk: Chullie, aku hanya mengingatkan untuk besok. Aku akan menjemputmu jam 10 pagi.]

[Heenim: Arasseo teukie. sampai ketemu besok.]

Heechul melihat ke arah jam. Sekarang sudah lewat tengah malam.

"Ah Sial."

Dia tidak bermaksud untuk ketiduran tadi. Dia berusaha bangun dan langsung menyesalinya. Rasa sakit yang luar biasa menyentak kakinya, membuatnya hampir tergelincir ke lantai, tetapi dia langsung memegangi meja untuk menahan dirinya.

"Ah!"

Pada saat itu dia mempertimbangkan untuk mengirim pesan kepada leadernya dan mengatakan bahwa dia sedang sakit, tetapi kemudian dia memikirkan semua member dan bagaimanapun dia tidak bisa mengecewakan mereka. Jadi dia hanya bisa menggertakkan gigi dan berjalan tertatih-tatih ke kamarnya. Heechul melepas bajunya, sekarang dia hanya mengenakan celana pendeknya dan perlahan-lahan mendudukkan dirinya ke tempat tidurnya sambil berusaha untuk menjaga kakinya tetap lurus.

Rasa nyeri yang sudah tidak asing meresap ke dalam persendiannya dan itu akan membuatnya tidak bisa tertidur lagi malam ini.

===

Leeteuk tiba tepat waktu. Jam 10 pagi. Dia menekan bel pintu apartemen Heechul. Dia menunggu beberapa saat dan hampir hendak menekan bel lagi ketika pintu akhirnya terbuka. Dia memandang Heechul.

Dongsaengnya itu mengenakan hoodie abu-abu besar dan celana jeans hitam. Rambut hitamnya menutupi dahinya, mencapai tepat di bawah alisnya. Ketika Heechul melangkah keluar pintu lalu menutupnya, dia mengenakan masker penutup warna hitam di wajahnya dan melirik ke arah hyungnya.

"Pagi, Teuk."

Leeteuk bisa mendengar nada kelelahan dalam suara Heechul.

"Tidur larut malam?"

"Aku tidak bisa tidur. Mungkin karena udaranya."

"Ya, akhir-akhir ini udara nya memang sedang dingin."

Heechul senang bahwa kebohongannya tertutupi dengan kondisi cuaca saat ini. Kakinya masih sangat sakit sehingga dia berusaha keras untuk bergerak dan berjalan di belakang Leeteuk dan mengabaikan rasa sakit nya ketika mereka berjalan menuju lift dan Heechul yakin ini akan menjadi hari yang menyiksa baginya.

Mereka tiba di ruang studio disambut oleh Shindong dan Donghae yang sedang melakukan pemanasan. Eunhyuk sedang memutar-mutar lagu-lagu di mp3 playernya sementara Yesung duduk di kursi sibuk mengikat tali sepatunya. Siwon baru saja tiba beberapa menit sebelum mereka berdua datang sehingga dia masih meletakkan barang-barangnya.

"Pagi!"

Donghae menyapa para hyung nya ketika mereka bersiap untuk memulai latihan. Heechul melepas hoodie besarnya sehingga memperlihatkan kancing hitam longgar yang tepat berada di bawahnya. Dia biasanya mengenakan celana olahraga atau celana fleksibel untuk latihan dance, tapi hari ini dia mengenakan celana jins hitamnya sehingga dia tidak perlu mengambil risiko untuk terlalu meregangkan kakinya yang sakit. Dia akhirnya melepas masker wajahnya dan melemparkannya ke atas hoodie-nya sebelum bergabung dengan member lain di lantai dance, diam-diam berharap hari ini bisa segera berakhir.

Karena dia hampir selalu berada di formasi belakang ketika dance, jadi dia dapat menyembunyikan kesulitannya sepanjang latihan, tetapi ada bagiannya dia harus pindah ke formasi depan dan memimpin gerakan. Heechul sudah terbiasa dan tidak punya masalah dengan itu sebelumnya, tetapi untuk saat ini dia benar-benar kesulitan. Sebelum mereka memulai bagian itu, Heechul berbalik ke arah Eunhyuk yang sedang memimpin latihan.

"Bisakah kita berhenti sebentar? Aku ingin mengambil air minum."

Eunhyuk langsung mengangguk.

"Tentu saja, hyung. Kita akan istirahat sepuluh menit."

Heechul mengangguk dan tanpa kata berjalan ke arah tasnya. Leeteuk mengamati gerakan Heechul yang lambat dan berat lalu mengikutinya. Begitu dia berada di samping Heechul dia melihat betapa banyak keringat yang Heechul keluarkan. Rambutnya yang basah menempel di dahinya. Tentu, mereka berkeringat saat latihan dance, tapi ini terlalu berlebihan bahkan untuk Heechul.

"Hei Chullie, gwenchana? Kamu sudah bekerja keras hari ini."

Heechul menyeruput air minumnya dan mengangguk.

"Gomawo, hyung. Gwenchanayo. Tadi malam aku hanya kurang tidur."

Leeteuk terus menatap dongsaengnya itu untuk beberapa saat lebih lama sebelum kemudian meletakkan tangannya di bahu Heechul.

"Baiklah. Setelah latihan kau harus langsung tidur. Kau tidak boleh mengacaukan pola tidurmu."

"Arasseo, Teuk."

Heechul kembali ke tempat latihan dan Eunhyuk memperagakan kepadanya gerakan-gerakan detail untuknya. Heechul mampu mengikuti gerakan dasarnya. Para member lain beranggapan bahwa itu adalah gerakan seperti Heechul biasanya. Mereka tahu bahwa setelah kecelakaan mobil yang Heechul alami, dia tidak pernah benar-benar bisa menari dengan lancar seperti member lain karena adanya logam yang menyangga kakinya. Member lain akhirnya bergabung kembali dengan Heechul.

Para member menari serempak dan memberi formasi untuk Heechul melangkah maju dan memimpin di depan. Dia melakukan beberapa gerakan, dan gerakan terakhir menyebabkan kemeja longgarnya berayun ke atas lalu jatuh menempel di punggungnya. Leeteuk, yang berada tepat di belakangnya, memperhatikan kemeja itu sekarang melekat di punggungnya dan melihat betapa deras keringatnya dan betapa berat napasnya. Leeteuk begitu terpaku pada temannya tersebut sehingga dia tidak menyadari latihan sudah berakhir sampai suara Siwon terdengar.

"Bagus, hyung!"

Shindong bertepuk tangan.

"Ya, Heechul-hyung. Kerja bagus."

Heechul akhirnya berdiri tegak dan perlahan berbalik untuk menghadap membernya. Dia tetap diam tidak berbicara, yang terdengar hanya suara napasnya yang berat. Dia menunduk ke bawah ketika sudah sepenuhnya menghadap mereka.

"Hyung?"

Donghae bertanya. Heechul perlahan-lahan mendongak. Rambutnya basah dan keringat membasahi pelipisnya. Matanya terpejam rapat.

"Heechul-ah?"

Leeteuk melangkah maju dengan khawatir. Suara sang leader membuat Heechul perlahan membuka matanya. Dia terpaku menatap Leeteuk dengan tatapan sayu sebelum pandangannya mengabur dan dia jatuh pingsan.

"Hyung!"

Siwon berhasil menangkap Heechul tepat sebelum dia jatuh menyentuh lantai. Semua member langsung mengerubunginya.

"Heechul-ah. Chullie."

Leeteuk memanggil dengan khawatir sementara Siwon memegangi kepala Heechul di pangkuannya. Dia bisa merasakan suhu panas dari tubuh Heechul yang basah oleh keringat. Leeteuk berlutut di kakinya.

"Yesung, tolong ambilkan air dan kain. Yang lain, tolong beri dia jarak."

Leeteuk mengalihkan perhatiannya kembali kepada Heechul yang pingsan dan meletakkan telapak tangannya di dahinya dan menyingkap rambutnya yang lepek dari matanya. Siwon memperhatikan betapa perhatiannya Leeteuk pada Heechul dari gerak-geriknya. Yesung kembali sambil membawa kain basah dan air.

"Ini, hyung!"

"Terima kasih, Yesung-ah."

Leeteuk langsung mengompreskan kain itu ke dahi Heechul yang sangat panas. Dia kemudian membuka ikatan gesper dan kancing celana jeans Heechul lalu melepaskannya agar mengurangi tekanan di kakinya. Dia kemudian memindahkan kompresan ke kaki Heechul.

Donghae duduk di samping hyungnya yang tidak sadarkan diri tersebut sambil memegangi tangannya yang hangat. Dia merasakan cengkeraman pelan tangan Heechul lalu memandang ke wajah hyung-nya tersebut. Alis Heechul berkerut dan dia mengerang pelan sebelum akhirnya membuka matanya perlahan. Leeteuk dengan lembut meletakkan tangannya di bahu Heechul.

"Chullie. Hei, gwenchana."

Heechul mengambil waktu sejenak untuk fokus pada wajah para membernya. Begitu dia ingat di mana dia berada, dia juga ingat mengapa dia berbaring di lantai dan rasa sakit yang lebih parah kembali menyentak kakinya hingga membuat seluruh tubuhnya menggigil. Tangannya terangkat untuk menutupi matanya dan Donghae merasakan cengkeraman di tangannya semakin mengencang. Kaki Heechul menjadi kaku dan dia menggertakkan giginya, menjerit kesakitan.

Siwon merasakan tenggorokannya tercekat saat pria yang berada dipangkuannya itu mulai bergerak-gerak gelisah, jelas menahan kesakitan.

"Hei, Chullie-ah. Tolong lihat aku."

Leeteuk menggenggam tangan Heechul dan dengan lembut mengangkatnya dari wajahnya sehingga dia dapat melihat air mata mengalir dari matanya. Shindong memandang Yesung yang tampak terpaku, lalu merangkulnya.

Leeteuk terus menggenggam tangan Heechul.

"S-sakit, hyung."

Leeteuk langsung mengerti apa maksudnya.

"Kakimu."

Eunhyuk duduk sambil menunduk.

"Aku seharusnya lebih memperhatikanmu, hyung. Ini salahku. Mianhae."

"A-ani."

Suasana sedih memenuhi ruangan. Napas Heechul memburu seperti sedang mengalami serangan panik. Siwon bisa merasakan tubuh Heechul bergetar dan dia melirik Leeteuk. Sang leader menatap matanya dengan tatapan prihatin.

"Bukan salahmu, H-Hyukie."

"Lalu kenapa, Heechul-ah?"

Heechul menghela nafas dan mendongak menatap Siwon yang memangku kepalanya. Siwon melihat hal ini menggemaskan lalu tersenyum padanya.

"Bisakah kau membantuku bangun?"

"Tentu saja, hyung."

Siwon segera memegangi Heechul dan dengan perlahan membantunya bangun. Mereka berada tidak jauh dari dinding sehingga dia bisa menyeret pelan Heechul untuk duduk menyenderkan punggungnya ke dinding. Heechul kembali mengerang dan menyandarkan kepalanya ke dinding yang dingin, tangan kirinya menggenggam lututnya dan berusaha untuk tetap meluruskan kakinya yang sakit. Member lain pun duduk di lantai mengelilinginya. Dia akhirnya menyadari bagian bawah tubuhnya.

"Mengapa celanaku dilepas?"

Tidak ada yang menjawab pertanyaannya.

"Chullie, bukankah kau pernah bilang tidak ada masalah dengan kakimu belakangan ini."

Leeteuk ingat Heechul memberitahunya.

" Bukan itu."

"Jadi, apa yang terjadi, hyung?"

Tanya Yesung.

Heechul mengerjap perlahan dan merasakan tetesan keringat membasahi wajahnya sebelum akhirnya dia berbicara.

"K-Kemarin saat syuting. Hodong hyung mendorongku dan aku jatuh menabrak meja Kyunghoonie. Sejak itu rasa sakitku kambuh." 

Leeteuk mengepalkan tinjunya dengan erat.

"Kenapa kau tidak mengatakan apa-apa, hyung? Kita bisa menunda latihannya."

Shindong bertanya dan meletakkan tangannya diatas tulang kering Heechul.

Heechul tidak menjawab, hanya menunduk dalam diam.

"Jika aku tahu kamu sedang sakit, aku tidak akan menyuruhmu latihan hari ini, hyung."

Eunhyuk meyakinkannya. Tetapi Heechul tetap diam.

Mata Heechul memperhatikan kepalan tangan leadernya hingga buku-buku jarinya memutih.

"T-Teuk?"

Leeteuk segera berdiri dan dengan kasar mengusap matanya sendiri dengan lengan bajunya.

"Kau tidak pernah memberi tahu kami saat kau sedang sakit, Heechul."

Suaranya tegas, terdapat kemarahan dalam nada suaranya.

"Apa kau harus menunggu sampai pingsan dulu karena menahan rasa sakit? Bagaimana jika kau pingsan ketika sendiri dan kepalamu terbentur, huh? Apakah kau tidak peduli dengan kesehatanmu sendiri?"

Heechul menatap Leeteuk dengan mata berkabut. Sindong mencoba menyela.

"Hyung."

"A-aku.."

Sebelum Heechul menyelesaikan kalimatnya, Leeteuk berbalik dan keluar ruangan. Para member lain menyaksikannya pergi begitu saja tanpa bicara.

"... minta maaf."

Heechul dengan sangat pelan menyelesaikan kalimat yang ingin dikatakannya ketika air mata jatuh di pipinya yang halus. Shindong kembali menatap Heechul.

"Gwenchana, hyung."

Heechul perlahan mengangguk dan menatap kakinya.

"Ayo, aku akan mengantarmu pulang dan menelepon dokter." 

Shindong berdiri dan membangunkan hyung-nya. Siwon membantu Heechul untuk berdiri dan meletakkan tangan Heechul di bahu Shindong. Donghae merapikan dan membawakan barang-barang Heechul.

Semua member keluar ruangan bersama-sama.

===

Shindong mengantarkan Heechul pulang lalu menelepon dokter. Dia tetap menemaninya ketika Heechul diperiksa dan diberi obat penghilang rasa sakit. Dokter juga menberi perban lututnya untuk menghindari resiko tersenggol dari luar. Begitu dia yakin bahwa hyungnya itu akan baik-baik saja, dia akhirnya merasa tenang untuk meninggalkannya sendirian.

"Aku akan berbicara dengan Leeteuk hyung. Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja."

"Gomawo, Shindong-ah. Untuk semuanya."

Heechul berbicara dengan pelan dari atas sofa, kakinya bersandar di meja kopi.

"Sama-sama, hyung. Beristirahatlah dan aku akan meneleponmu besok."

Pria bertubuh gemuk itu tersenyum sebelum akhirnya menutup pintu di belakangnya.

Heechul menghembuskan napasnya pelan dan membaringkan kepalanya ke sofa. Hari ini menjadi hari yang buruk. Sekarang semua member tahu mengenai kakinya dan mereka pasti akan mencoba untuk menunda comeback mereka, padahal mereka telah bersiap untuk itu. Ini adalah hal terakhir yang Heechul inginkan. Mengapa membernya begitu mementingkan orang lain. Dia melirik perban putih yang terlihat di bawah ujung celana boxer hitamnya. Itu membuatnya marah, bahkan meskipun sudah sepuluh tahun berlalu itu masih mempengaruhi dirinya. Kemarahannya tidak jadi naik ke permukaan ketika dia mendengar bel pintu apartemen nya. Dia melihat arlojinya. Sudah jam 11 malam.

Heechul berusaha memaksa dirinya bangun perlahan-lahan, berhati-hati untuk tidak terlalu bertumpu pada kakinya yang sakit. Dia berjalan pelan sambil menyeret kakinya sendiri dan menuju pintu. Dia mulai membuka pintu.

Sebelum dia sempat untuk membuka seluruh pintu, sesosok tubuh berjalan ke arahnya, memaksanya untuk mundur. Pintu terbanting menutup dan dia merasakan dirinya didorong menempel ke dinding. Dia akhirnya bisa fokus melihat siapa sosok di depannya.

"L-Leeteuk?"

"Aku perlu mengatakan sesuatu dan aku ingin kau mendengarkannya."

Leeteuk berbicara dengan nada marah, tetapi sedikit berkurang ketika akhirnya berdiri tepat didepan dongsaengnya tersebut. Heechul masih mencoba mencerna apa yang sedang terjadi sehingga dia memilih tetap diam.

"Kau begitu bodoh hari ini, Heechul."

Kata-kata itu terasa seperti tamparan di wajah Heechul.

"Itu berbahaya dan beresiko. Hal ini bisa dicegah seandainya kau memberitahuku bahwa kau sedang sakit."

Heechul tetap menunduk ke bawah, tidak bergerak.

"Kau menjalani seluruh latihan seolah-olah tidak ada hal yang salah. Kau berbohong padaku, Heechul."

Heechul dapat merasakan kemarahan leadernya sehingga dia ingin mencoba untuk melarikan diri dari keadaan yang mengintimidasinya ini, tetapi dia langsung merasakan sebuah tangan mendorongnya kembali ke dinding dan menahannya keras di sana dan Leeteuk melangkah lebih dekat, memperpendek jarak mereka.

"Kau berbohong. Kau ingin melewati seluruh comeback dengan kakimu yang sakit, begitu? Betapa bodohnya dirimu, Heechul!"

Heechul merasa terluka oleh kata-kata Leeteuk yang semakin tajam sambil terus menahannya di dinding. 

"Apa? Tidak bisa bicara? Di mana Heechul yang selalu mengungkapkan dengan gamblang apa yang ada dipikirannya? Di mana Heechul yang tidak peduli kata-kata orang lain tentang dirinya? Di mana Heechul yang pernah meninju wajahku saat di Incheon? Hah?!"

Diri Leeteuk saat ini dipenuhi oleh amarah. Napasnya terasa berat dan ketegangan emosi menguasai dirinya. Dia tidak mendapat respon apapun kecuali hanya keheningan. Akhirnya dirinya mulai tenang dan pandangannya menjadi jelas dan dia bisa melihat sosok di depannya. Mata Heechul terpejam rapat dan air mata mengalir deras di wajahnya. Karena keadaan tubuhnya yang lemah, dia hanya membiarkan Leeteuk mendorong dan menahan tubuhnya menempel di dinding dan hanya diam mendengarkan. Leeteuk mengamati seluruh tubuh teman sekaligus dongsaengnya tersebut. Tubuh kurus Heechul mengenakan kaos abu-abu dan celana pendek hitam, tapi apa yang menarik perhatian matanya adalah perban putih yang melekat di kaki Heechul. Segera Leeteuk merasakan jantungnya berdegup cepat ketika dia merasakan tubuh yang dia tahan di dinding gemetar dan menyadari beban berat yang Heechul tumpu dari dorongan tangannya yang menahannya di dinding. Dan Heechul tidak melawan.

"Ya Tuhan. Chullie. Aku.."

Leeteuk menyesali apa sudah dia lakukan selama lima menit terakhir ini yang hanya berteriak marah pada dongsaengnya tersebut. Dia perlahan-lahan melepaskan cengkeraman kuatnya di dada Heechul dan hendak merangkulnya, tetapi Heechul langsung jatuh merosot dari dinding dan hanya duduk di lantai dengan salah satu tangannya mencengkeram erat lututnya. Tubuhnya bergetar karena menangis. Leeteuk mendekati Heechul di lantai, ragu-ragu untuk merangkulnya lagi seolah-olah dia takut akan melukainya.

"Chullie, kakimu. M-mianhe."

Leeteuk tidak yakin lebih untuk alasan yang mana dia minta maaf, karena kata-katanya yang tajam atau karena kenyataan bahwa dia membuat Heechul berdiri menahan beban tumpuan di atas lututnya yang dia sendiri tahu sedang menahan rasa sakit.

"T-Tidak, kau benar, hyung. Itu benar."

Heechul berbicara sambil menangis, berusaha mengabaikan rasa sakit yang semakin menjadi di kakinya karena tekanan dorongan Leeteuk.

"Aku bodoh. Aku s-seharusnya memberitahumu dan mempercayaimu. A-aku sudah egois. M-mianhae."

Heechul mengusap matanya, tetapi air matanya tidak mau berhenti mengalir.

Leeteuk merasakan hatinya hancur dan matanya berkabut, dia langsung membenci dirinya sendiri karena telah membuat dongsaengnya menangis.

"Tidak, Heechul-ah. Ya Tuhan, tidak satupun yang kukatakan itu benar. Tidak satupun. Kau berusaha melindungi kami karena kau lebih peduli pada kami daripada dirimu sendiri. Dan aku tahu kau sudah berusaha keras menahan amarahanmu tapi aku malah terus memprovokasimu. Jebal, mianhae, Chullie. Dirimu sedang sakit dan aku seharusnya ada disini merawatmu bukannya malah semakin membuatmu sakit."

Heechul tanpa kata mencondongkan tubuhnya ke depan, memeluk hyungnya dan membenamkan kepalanya di leher Leeteuk. Leeteuk merasakan tubuhnya gemetar ketika Heechul menangis di bahunya. Leeteuk memeluk Heechul dan membiarkan air matanya mengalir juga. Dia tidak ingat kapan terakhir kali Heechul memeluknya seperti ini. Dia sangat mencintai Heechul, dongsaeng sekaligus temannya yang hanya beberapa hari lebih muda darinya itu. Tanpa berkata apa-apa dia melepaskan pelukannya dari Heechul dan mengangkatnya bangun serta mamapahnya pelan ke ruang tamu dan duduk di sofa sehingga kepala Heechul dapat bersandar di dadanya. Leeteuk hanya menikmati suasana ini sambil terus memeluk Heechul seperti ini. Rambutnya yang hitam terasa menggelitik dagunya, tetapi dia menyukai bau Heechul. Heechul selalu berbau harum.

"Aku lelah, Teuk."

Suaranya hampir tak terdengar, sehingga Leeteuk memeluknya lebih erat.

"Tidurlah, Chullie. Aku akan tetap disini menemani."

"Aniyo."

Leeteuk menunduk mencoba untuk menatap wajah yang berada dalam pelukannya itu. 

"Aku lelah..merasa seperti aku tidak berguna."

Leeteuk merasa seperti mendapatkan hantaman keras di hatinya.

"Heechul-ah, kamu tidak-"

"Aku tahu kau akan mengatakan bahwa aku tidak seperti itu, tapi itu tidak dapat membuatku berhenti untuk merasakan perasaan itu, hyung."

Heechul memejamkan matanya dan terus membiarkan kepalanya bersandar di dada Leeteuk. Leeteuk rasanya ingin menarik Heechul dan mengguncangnya sampai dia mendapatkan kembali akalnya, tetapi dia memilih berbicara pelan.

"Chullie, lihat aku."

Heechul melakukan apa yang diminta Leeteuk dan menggeser wajahnya sehingga dia bisa menatap hyung-nya tanpa mengangkat kepalanya. Heechul menatap melalui matanya yang berkabut, air matanya sudah mengancam untuk terjatuh kembali.

"Setiap kali dirimu merasa seperti tidak berguna, aku ingin kau memikirkan tentang bagaimana dulu kau mengunjungi Kyuhyunie setiap hari ketika dia terbaring di rumah sakit. Kau adalah salah satu alasan terbesar dia untuk bisa pulih seperti sekarang."

Heechul mengerjap pada Leeteuk dan mengerutkan alisnya.

"Aku ingin kau memikirkan tentang setiap kali kau melakukan variety show dan berusaha keras mempromosikan kami bahkan meskipun kau berpikir apa yang kau lakukan itu bukanlah suatu hal yang istimewa. Tapi kau terus berusaha keras melakukannya."

Heechul kembali mengerjap ketika air mata mengalir di kelopak matanya.

"Dan aku ingin kau memikirkan saat-saat ketika ayahku.... ya..kau selalu ada di sana untukku lebih dari siapa pun."

Air mata Leeteuk tumpah dari matanya dan menggerakkan tangannya mengelus pelan kepala Heechul dan menatap penuh sayang ke matanya.

"Kau tidak pernah tidak berguna, Chullie. Kau tidak pernah tahu betapa pentingnya dirimu ..."

Leeteuk kehilangan kata-kata.

"....Kau benar-benar tidak tahu, kan?"

Leeteuk mengatakan hal itu lebih kepada dirinya sendiri dan menyadari betapa benar kata-katanya tersebut. Heechul selalu menyadari saat-saat dia mengacaukan performancenya, atau melewatkan satu gerakan di atas panggung, ataupun selalu mengetahui ketika membernya sedang mengalami tekanan. Dia jarang mendapat pujian karena suaranya ataupun ketika dia tampil dengan baik di variety shows atau bahkan ketika dia membantu member-membernya. Kyuhyun dan Heechul menjadi semakin dekat setelah mereka berdua sama-sama mengalami kecelakaan mobil, yang sama-sama mengerikannya seperti yang diberitakan. Tapi Heechul tidak pernah benar-benar dipuji ketika dia melakukan suatu hal baik.

Leeteuk mendekap Heechul dan mencium kepala dongsaengnya tersebut dan menggenggam tangannya yang halus dengan tangannya sendiri.

"Aku mencintaimu, Chullie. Aku selalu bangga padamu. Kau sangat berguna dan aku ingin kau tahu itu. Dan aku minta maaf karena tidak sering memberitahumu tentang hal ini."

Heechul tersenyum malu pada hyungnya. Dia tidak tahan dengan pujian baik.

"Gomawo, Teuk."

Mereka bersandar diam selama beberapa jam, tetapi mereka tidak peduli. Kau bisa merasa nyaman dalam keheningan ketika dengan seseorang yang kau percayai. Akhirnya Leeteuk merasakan sesuatu bergetar di dalam bajunya.

"Hodong hyung..."

Leeteuk langsung mulai tertawa dan Heechul juga ikut tertawa dengannya.

"Aku punya firasat bahwa dia tidak sepenuhnya tidak terprovokasi."

Heechul tampak ragu.

"Aku mungkin sudah mengatakan sesuatu tentang berat badannya."

Leeteuk meninju pelan perut dongsaengnya.

"Kalau begitu aku tarik kembali. Ini semua salahmu, Kim Heechul."

Mereka berdua tertawa bersama, hanya menikmati kebersamaan satu sama lain sampai matahari terbit dan hari baru dimulai.

===

End

Komentar

  1. Hi! Is it possible you have the original English version of this story saved somewhere? I really, really, really love this story and re-read it often, but it got deleted off ao3 earlier. I'm now on a wild hunt to find it anywhere at all. Please!!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Super Junior's Intimate Note [ENG SUB] [COMPLETE]

Super Junior's Explorers Of Human Body Eps 1-13 ENG SUB [COMPLETED]